@a Media

Beranda » Artikel Pendidikan » PERPADUAN PEMBELAJARAN KONTEKTUAL (CTL)

PERPADUAN PEMBELAJARAN KONTEKTUAL (CTL)

A. LATAR BELAKANG

Perkembangan pendidikan dewasa ini kian berkembang dengan pesat dan kita tidak dapat memungkirinya lagi bahwa pendidkan adalah hal yang penting di tengan era persaingan global saat ini bagi para individu untuk mengembangkan dirinya karena berdasarkan UU Sikdiknas pasal 1 ayat 1 dijelaskan bahwa

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.(UU Sikdiknas, 2003 : 2)

Dan berdasarkan amanah Undang – Undang tersebut telah jelas bahwasanya pendidikan adalah sarana formal dalam mengembangkan segala potensi yang dimiliki oleh peserta didik. Agar potensi yang dimiliki oleh setiap individu peserta didik dapat berkembang dengan baik maka hendaknya konsep kurikulum pendidikan yang diberikan kepada peserta didik harus terkonsep secara tersetruktur dan berkualitas serta memberikan keleluasaan bagi peserta didik, sekolah dan daerah untuk mengembangkan potensi yang dimilikinya.

Dan Berdasarkan permasalahan datas Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dapat mampu menjawab dan mengatasi permasalahan tersebut karena KTSP adalah kurikulum oprasional yang disusun dan dilaksanakan oleh masing – masing satuan pendidikan dengan tetap mengacu pada panduan Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP), sehingga dengan adanya KTSP ini tiap satuan pendidikan dapat lebih leluasa untuk dapat mengembangkan potensi daerah, sekolah dan potensi yang dimiliki peserta didik dengan lebih baik.

Guna dalam menunjang kesempurnaan dalam pelaksanaan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan tersebut maka dibutuhkan konsep kegiatan pembelajaran yang dapat mengaitkan materi pelajaran agar sesuai dengan situasi dunia dan lingkngan yang nyata dan mendorong siswa agar dapat menerapkan implikasi materi tersebut kedalam kehidupan mereka sehari – hari serta diiringi dengan pemyampaian materi pelajaran dengan memacu siswa agar aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan.

Berakar dari adanya pandangan diatas maka sekiranya perpaduan antara Contextuan Teaching & learning (pembelajaran Kontektual) dan Pembelajaran Aktif, Kreatif, Efektif, dan Menyenangkan (PAKEM) adalah trobosan yang sangat baik dikarenakan 2 cara pembelajaran tersebut sangat sesuai dengan konsep KTSP. Pembelajaarn kontektual (CTL) dan PAKEM ini menjadi trobosan yang baik dalam KTSP karena saat para pendidik menggunakan  pembelajaran yang biasa/tradisional  metode tersebut belum mampu menjadikan atau mendidik peserta didik untuk dapat menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana pemanfaatanya dalam dunia nyata. Hal ini karena konsep akademik yang diperoleh oleh peerta didik  hanyalah sesuatu yang abstrak dan belum menyentuh kebutuhan praktis kehidupanya di lingkungan dunia kerja ataupun masyarakat.

Pada umumya hal itu dipengaruhi karena pelajaran yang diajarkan oleh para pendidik hanyalah pengutamaan tingkat hafalan dari berbagai materi pokok bahasan pelajaran dengan diajarkan dengan menjenuhkan dan centar teaching (berpusat pada guru) dengan tidak diikutinya keatifan, pemahaman yang mendalam oleh peerta didik sehingga peserta didik tidak dapat mengaktualisasikanya dalam situasi dalam kehidupan dan keseharianya.

Maka dengan kenyataan tersebut mkalah seminar ini akan berusaha mengungkap trobosan baru mengenai peraduan pembelajaran kontektual (CTL) dan PAKEM dalam pelaksanaan pembelajaran dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP).

B. PERUMUSAN MASALAH

1.      Bagaimana prinsip-prinsip KTSP dan apa karakteristik KTSP?

2.      Apa pembelajaran kontektual (CTL) dan Pembelajaran PAKEM itu?

3.      Mengapa perlu pembelajaran Kontektual (CTL) dipadukan dengan pembelajaran PAKEM dalam KTSP?

C. CARA MENGATASI MASALAH

1.      Prinsip – Prinsi KTSP dan Acuan Oprasional KTSP

Menyadari bahwa begitu pentingnya pengembangan kurikulum merupakan proses yang dinamis maka berdasarkan BNSP prinsip penyusunan KTSP dikembangkan berdasarkan :

a.       Berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan peserta didik dan lingkungan.

b.      Beragam dan terpadu.

c.       Tanggap terhadap perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi dan seni.

d.      Relevan dengan kebutuhan kehidupan.

e.       Menyeluruh dan berkesinambunagn.

f.       Belajar sepanjang hayat.

g.      Seimbang antara kepentinagn nasional dan kepentingan daerah. (Henny Riandari, 2007: 2)

Selain berdasarkan prinsip – prinsip tersebut KTSP juga disusun dengan memperhatikan acuan oprasional, dan menurut Masnur Muslich acuan oprasional tersebut antara lain :

a.       Peningkatan iman dan takwa serta akhlak mulia.

b.      Peningkatan potensi, kecerdasan, dan minat sesuai dengan tingkat perkembangan dan kemauan peserta didik.

c.       Keragaman potensi dan karakteristik daerah dan lingkngan.

d.      Tuntutan pembangunan daerah dan nasioanal.

e.       Tuntutan dunia kerja.

f.       Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.

g.      Agama.

h.      Dinamika perkembangan global.

i.        Persatuan nasional dan nilai – nilai kebangsaan.

j.        Kondisi sosial budaya masyarakat setempat.

k.      Kesetaraan gender.

l.        Karakteristik satuan pendidikan.( Masnur Muslich, 2008: 19-21)

Dari prinsip dan acuan oprasional KTSP tesebut Mansur Muslich menegaskan bahwa dalam KTSP memiliki beberapa karakeristik utama diantaranya :

a.       Berbasis kompetensi dasar (curriculum based competencies) bukan pada materi pelajaran.

b.      Bertumpu pada pembentukan kemampuan yang dibutuhkan oleh siswa, (developmentally-appropiate practice) bukan penerusan materi pelajaran.

c.       Berpendekatan atau berpusat pembelajaran (learner centered curriculum) bukan pengajaran.

d.      Berpendekatan terpadu atau integrative, bukan diskrit.

e.       Bersifat diversifikasi, pluralisasi dan multikltural.

f.       Bermuat empat pilar pendidikan kesengajaan yaitu belajar memahami (learning to know), belajar berkarya (learning to do), belajar menjadi diri sendiri (learning to be oneself), dan belajar hidup bersama (learning to live together)

2.      Pembelajaran Kontektual (CTL) dan Pembelajaran PAKEM

a.       Pembelajaran Kontektuan (CTL)

Menurut Eline B. Johnson pembelajaran kontektual (CTL) adalah:

Sebuah proses pendidikan yang bertujuan menolong para siswa melihat makna didalam materi akademik yang mereka pelajari dengan cara menghubungkan subjek – subjek akademik dengan konteks dalam kehidupan keseharian mereka, yaitu dengan konteks keadaan pribadi, sosial dan budaya mereka. Untuk mencapai tujaun itu, sistem tersebut meliputi delapan komponan berikut: melakukan kegiatan – kegiatan yang bermakna, melakukan pekerjaan yang berarti, melakukan pembelajaran yang diatur sendiri, melakukan kerjasama, berpikir kritis dan kreatif, membantu individu untuk tumbuh dan berkembang, mencapai setandar yang tinggi dan melakukan penilaian autentik.( Eline B. Johnson, 2002: 67)

Untuk lebih memahami secara lebih mendalam konsep pembelajaran Kontekstual (CTL) Masnur Muslich yang mengutif hasil dari COR (center for Occuptional Research) di Amerika menjabarkan konsep pembelajaran kontekstual (CTL) menjadi lima konsep bawahan yaitu disingkat REACT dan penjabaranya adalah sebagai berikut :

a.       Relating adalah bentuk belajar dalam konteks kehidupan nayta atau pengalaman nyata

b.      Experiencing adalah belajar dalam konteks eksplorasi, penemuan, dan penciptaan

c.       Applying adalah belajar dalam bentuk penerapan hasil belajar dalam penggunaan dan kehidupan praktis

d.      Cooperating adalah belajar dalam bentuk berbagai informasi dan pengalaman, saling merespon, dan saling berkomunikasi.

e.       Transferring adalah kegiatan belajar dalam bentuk memanfaatkan pengetahuan dan pengalaman berdasarkan konteks baru untuk mendapatkan pengetahuan dan pengalaman belajar yang baru (Masnur Muslich, 2008; 41-42)

Dan untuk meberikan gambaran yang lebih pembelajaran kontekstuan (CTL) ini mempunyai karakteristik sebagai berikut:

a.       Kerja sama

b.      Saling menunjang

c.       Menyenagkan dan tidak mebosankan

d.      Belajar dengan gairah

e.       Pembelajaran terintegrasi

f.       Menggunakan berbagai sumber

g.      Siwa aktif

h.      Sharring dengan teman

i.        Guru kreatif (Nurhadi dalam Masnur, 2008: 42)

Dan dari sumber yang berbeda menyatakan bahwa pembelajaran kontecktual (CTL) secara lebih sederhana sebagai berikut :

Pembelajaran kontekstual adalah pembelajaran yang dimulai dengan sajian atau tanya jawab lisan (ramah, terbuka, negosiasi) yang terkait dengan dunia nyata kehidupan siswa (daily life modeling), sehingga akan terasa manfaat dari materi yang akan disajkan, motivasi belajar muncul, dunia pikiran siswa menjadi konkret, dan suasana menjadi kondusif – nyaman dan menyenangkan. Prinsip pembelajaran kontekstual adalah aktivitas siswa, siswa melakukan dan mengalami, tidak hanya menonton dan mencatat, dan pengembangan kemampuan sosialisasi.
Ada tujuh indikator pembelajaran kontekstual sehingga bisa dibedakan dengan model lainnya, yaitu modeling (pemusatan perhatian, motivasi, penyampaian kompetensi-tujuan, pengarahan-petunjuk, rambu-rambu, contoh), questioning (eksplorasi, membimbing, menuntun, mengarahkan, mengembangkan, evaluasi, inkuiri, generalisasi), learning community (seluruh siswa partisipatif dalam belajar kelompok atau individual, minds-on, hands-on, mencoba, mengerjakan), inquiry (identifikasi, investigasi, hipotesis, konjektur, generalisasi, menemukan), constructivism (membangun pemahaman sendiri, mengkonstruksi konsep-aturan, analisis-sintesis), reflection (reviu, rangkuman, tindak lanjut), authentic assessment (penilaian selama proses dan sesudah pembelajaran, penilaian terhadap setiap aktvitas-usaha siswa, penilaian portofolio, penilaian seobjektif-objektifnya dari berbagai aspek dengan berbagai cara). (Muhamad Firdaus, http://www. astramatika. blogspot. com, diakses Tanggal 2 Maret 2010 pukul 19.25 WIB)

b.      Pembelajaran PAKEM

Pakem adalah sebuah model pembelajaran yang mengabungkan beberapa aspek yaitu aspek pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan.

Menurut Dadand Wahidin PAKEM yang merupakan singkatan dari pembelajaran aktif, kreatif, efektif dan menyenangkan, merupakan sebuah model pembelajaran kontekstual yang melibatkan paling sedikit empat prinsip utama dalam proses pembelajarannya. Pertama, proses Interaksi (siswa berinteraksi secara aktif dengan guru, rekan siswa, multi-media, referensi, lingkungan dsb). Kedua, proses Komunikasi (siswa mengkomunikasikan pengalaman belajar mereka dengan guru dan rekan siswa lain melalui cerita, dialog atau melalui simulasi role-play). Ketiga, proses Refleksi, (siswa memikirkan kembali tentang kebermaknaan apa yang mereka telah pelajari, dan apa yang mereka telah lakukan). Keempat, proses Eksplorasi (siswa mengalami langsung dengan melibatkan semua indera mereka melalui pengamatan, percobaan, penyelidikan dan/atau wawancara).(www. Globeltrackr. Com. Diakses Tanggal 17 Mei 2009 jam 19.25 WIB).

Sedangkan pendapat lain menurut Guru Besar FKIP UNS dan sekaligus Dekan FKIP UNS Prof. DR. H. M. Fufqon Hidayatullah, M. Pd. yang disampaikan dalam seminar pendidikan tingkat regional di Audituorium UMS 18 Juni 2008, PAKEM dibagi menjadi 4 aspek sebagai berikut:

a.       Belajar Aktif

Belajar yang siswanya terlibat secara optimal dalam pembelajaran, dan siswa mempunyai potensi yang dapat dikembangkan serta guru berperan sebagai fasilitator untuk menciptakan kondisi belajar yang kondusif.

b.      Belajar Kreatif

Dengan siswa mendapatkan kesempatam berimajinasi dan guru menyediakan/memfasilitasi imajinasi siswa dengan berbagia cara.

c.       Belajar Efektif

Dengan belajar efektif tujaun pembelajaran dapat dicapai secara optimal.

d.      Belajar Menyenagkan

1.      Guru

–          Selalu meberi dorongan kepada siswa yang belum berhasil.

–          Meberi penguatan dan penghargaan kepada siswa yang belum berhasil.

–          Menunjukan sikap terbuka dan percaya kepada siswa.

2.      Siswa

–          Merasa nyaman di dalam kelas.

–          Merasa tertantang ntuk mempertanyakan sesuatu.

–          Berani mengemukakan gagasan.

–          Puas dengan hasil belajar yang diperolehmya.

3.      Perlunya pembelajaran Kontektual (CTL) dengan dipadukan dengan pembelajaran PAKEM dalam KTSP.

Belajar itu menyenangkan. Tapi, siapa yang menjadi stakeholder dalam proses pembelajaran yang menyenangkan itu? Jawabannya adalah siswa. Siswa harus menjadi arsitek dalam proses belajar mereka sendiri. Kita semua setuju bahwa pembelajaran yang menyenangkan merupakan dambaan dari setiap peserta didik. Karena proses belajar yang menyenangkan bisa meningkatkan motivasi belajar yang tinggi bagi siswa guna menghasilkan produk belajar yang berkualitas. Untuk mencapai keberhasilan proses belajar, faktor meetode dan penyampaian dan cara pembelajaran merupakan kunci utama. Maka dari itu dalam KTSP ini guru atau pendidik harus mampu meberikan pembelajaran yang berkualitas dengan beragam metode, dalam makalah ini kami sajikan perpaduan kombinasi 2 metode pembelajaran yaitu pembelajaran Kontektual (CTL) dengan pembelajaran PAKEM sebagai trobosan baru dalam pembelajaran KTSP.

Mengapa Pembelajaran kontestual (CTL) dan pembelajaran PAKEM perlu dipadukan. Hal ini didasarkan karena pada kenyataan bahwa sebagian besar siswa tidak mapu untuk menghubungkan antara apa yang mereka pelajari dengan bagaimana memenfaatkan yang mereka pelajari untuk dapat diterapkan dalam kehidupanya, baik di lingkungan dunia kerja maupun dilingkunagan masyarakat. Hal ini dapat terjadi dan dilami oleh para siswa kareana pembelajaran yang selama ini siswa terima hanyalah sekedar penonjolan tingkat hafalan dari sekian rentetan topik ata pokok bahasan, tetapi tidak diikuti dengan pemahaman dan pengerian yang mendalam, yang bisa siswa terapkan ketika mereka berhadapan dengan situasi baru dalam kehidupanya. Menurut Elain B Johnson juga menegaskan bahwa:

Pendidikan tradisional menekankan penguasaan dan manipulasi isi.  Para siswa menghafal fakta, angka, nama, tanggal, tempat, dan kejadian; mempelajari secara terpisah satu sama lain dan berlatih dengan cara yang sama untuk memperoleh kemapuan dasar menulis dan menghitung.( Elain B Johnson, 2002: 32-33).

Dan dari kenyataan yang demikain secara langsung pembelajaran yang terjadi dalam kelas adalah pembelajaran yang menjenuhkan, mebosankan dan membuat siswa takut dan engan untuk termotivasi dalam belajar. Untuk itu perlu ada metode pembelajaran untuk mengatasi hal tersebut, dan guru juga harus tau serta paham akan modus pengalaman belajar. Dan lebih jelasnya menenai mosdus pemahaman belajar Mansur Muslich membuan krucut pengalamna belajar yang diingat dalam presentase seperti gambar dibawah ini:

(Gambar Krucut belajar)

Keterangan :

§  Apabila kita melakukan kegiatan membaca maka akan ingat 10 % dari apa yang kita baca.

§  Apabila kita melakukan mendengar membaca maka akan ingat 20 % dari apa yang kita dengar.

§  Apabila kita melakukan kegiatan melihat maka akan ingat 30 % dari apa yang kita lihat.

§  Apabila kita melakukan kegiatan melihat dan mendengar maka akan ingat 50% dari apa yang kita lihat dan dengar.

§  Apabila kita melakukan kegiatan mengatakan maka akan ingat 70 % dari apa yang kita katakan.

§  Apabila kita melakukan kegiatan mengatakan dan melakuan maka akan ingat 90 % dari apa yang kita katakan dan lakuakn.( Mansur Muslich, 2008: 75)

Sehingga dengan kenyataan kondisi pembelajarn yang demikian dan adanya gambar krucut pengalaman belajar diatas maka Dalam KTSP sangat cocok jika Pembelajaran kontekstual (CTL) dan PAKEM dipadukan untk mengatasi permasalahan pembelajaran tersebut  karena dengan kedua model pembelajaran tersebut siswa dapat mendapatkan:

a.       Pemahaman belajar yang lebih karena suasana belajar menyenangkan dan efektif.

b.      Motivasi belajar yang tinggi karena pembelajaran aktif dan kreatif

c.       Kecakapan pengendalian diri dalam sebuah kelompok dan masyarakat

d.      Kecakapan rasional untk menganalisa suatu masalah karena dihadapkan dengan kontekstual permasalahan yang nyata.

e.       Kecakapan sosial karena konteks pembelajaran diinteraksikan dengan keadaan masyarakat yang terjadi. Dan siswa harus mampu berinteraksi denagn masyarakat.

f.       Kecakapan akademik yang tinggi karaena tingkat pemahaman dan motivasi belajar siswa tinggai serta penilaian dilakukan sengan sistem penilaian autentik.(Wahyu Aji, Suwerli, Suranto, 2005 : iii)

D. KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidkan (KTSP) yang berpusat pada pembelajaran yang memberikan keleluasaan kepada sekolah untuk merancang pembelajaranya sendidri sesuai dengan panduan BNSP maka sudah selayaknya para pendidik mengguanakan metode pembelajaran yang hanya mengandalakan haflan fakta saja karena dengan demikian akan mejadikan siswa atau peserta didik akan sulit mengaplikasikan ilmu yang didapatkanya dalam proses belajar karena siswa kurang mendapatkan pemahaman dan pengertian yang mendalam, yang bisa siswa terapkan dengan mudah.

Pembelajaran kontektual (CTL) dengan PAKEM adalah solusi cara pembelajaran yang tepat karena dengan menggunakan kedua metode tersebut akan menjadikan siswa atau peserta didik termotivasi dan lebih mudah mendalami dan mengaplikasikan materi yang mereka dapatkan dalam realita keseharianya.


1 Komentar

  1. st_30 mengatakan:

    mengembangkan materi kontekstual, teori apa yang digunakan, apakah menggunakan teori pembelajaran kontekstual?????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: