@a Media

Beranda » Artikel Umum » FILSAFAT EMANASI JIWA DAN AKAL

FILSAFAT EMANASI JIWA DAN AKAL

Akal berasal dari akar kata al-‘aql yang berarti faham dan mengerti dan berasal dari kata ‘aqala yang mengandung arti memahami dan berfikir. Menurut Prof Izutuzu kata ‘aql di zaman jahiliah dipakai dalam arti kecerdasan psikis, dan orang berakal menurut pendapatnya adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah, setiap kali dihadapkan dengan problem dan selanjutnya dapat melepaskan diri dari bahaya yang dihadapi.

Didalam kata ‘aqala mengandung arti mengerti dan memahami, berfikir, dalam Al-Quran dijelaskan  dalam surat Al’ Arraf atat 179 yang berbunyi

Dan Sesungguhnya kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. mereka Itulah orang-orang yang lalai.( Al’ Arraf atat 179)

Dan dalam surat Muhammad ayat 24 yang berbunyi

Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al Quran ataukah hati mereka terkunci?( Muhammad ayat 24

Ayat-ayat Al-Quran maupun uarain arti kata yang disampikan diatas tidak menyebutkan bahwa akal dan pikiran tidak berpusat di kepala tetapi Al’aql disamakan dengan arti  al-qalb yang berpusat di dada.

Prof Izutsu berpendapat bahwa dengan masuknya pengaruh falsafah yunani kedalam pemikiran islam, kata al’aql mengandung arti yang sama dengan nous dalam filsafat yunani arti nuos  adalah daya pikir. Sehingga tidak mengherankan jika pengertian yang jelas mengenai akal terkandung dalam pembahasan filosof-filosof islam.

Ibnu Sina (980-1037M) menjelaskan dan membagi jiwa dalam tiga bagian:

  1. Jiwa Tumbuh-Tumbuhan yang mempunyai daya makan, tumbuh dan berkembang baik.
  2. Jiwa binatang yang mempunyai daya gerak pindah dari satu tempat ke tempat lain dan daya menangkap dengan panca indera, yaitu dengan indera luar berupa pendengaran, penglihatan, rasa, dan raba, serta indera yang berada dalam otak yang terdiri dari:
    1. Indera bersama yang menerima kesan-kesan yang diperoleh panca indera.
    2. Indera penggambar yang melepaskan gambar-gambar dari materi.
    3. Indera pereka yang mengatur gambar-gambar.
    4. Indera penganggap yang menangkap arti-arti yang terlindung dalam gambar-gambar tersebut.
    5. Idera pengingat yang menyimpan arti-arti itu
    6. Jiwa manusia yang terdiri tiga daya, daya bernafsu yang berada di perut, daya berani yang berada di dada, dan daya berfikir yang berpusat di kepala. Daya berfikir yang disebut akal dibagi menjadi dua:
      1. Akal praktis, yang menerima arti-arti yang berasal dari materi melalui indera pengingat yang ada di indera binatang.
      2. Akal teoritis, yang menangkap arti-arti murni dan yang tak pernah ada dalam materi, seperti Allah, roh dan malaikat.

Akal praktis memusatkan perhatian kepada alam materi, menangkap kekhususan. Akal praktis, jika dihubungkan dengan nafsu binatang akan menimbulkan rasa malu, sedih, dan lain-lain. Jika dihubungkan dengan daya penangkap dan indera batin binatang ia akan memperbedakan apa yang buruk serta akan meghasilkan kecakapan mencipta dalam diri manusia. Dan terakhir jika dihubungkan dengan akal teoritis ia akan menimbulkan pendapat-pendapat masyur, seperti berdusta dan tidak baik, bersikap tidak adil dan buruk sehingga dengan demikian akal praktis harus mengontrol jiwa binatang.

Akal teoritis sebalikanya bersifat metafisis, mencurahkan perhatian kepada dunia imateri dan menangkap keumuman. Akal teoritis mempunyai empat derajat:

  1. Akal materi, yang merupakan potensi belaka, yaitu akal yang kesanggupannya menangkap arti-arti murni.
  2. Akal bakat, yaitu akal yang kesanggupannya berfikir secara murni abstrak telah mulai kelihatan.
  3. Akal aktual yang telah lebih mudah dan telah lebih banyak dapat menangkap pengertian dan keadaan umum.
  4. Akal perolehan, yaitu akal yang didalam arti-arti abstrak tersebut selamanya sedia untuk dikeluarkan dengan mudah sekali.

Akal keempat inilah yang tertinggi dan terkuat dayanya dan memiliki filosof-filosof. Akal inilah yang dapat menangkap arti-arti murni yang dipancarkan Allah melalui akal “X” ke bumi. Akal inilah yang dapat memahami alam murni yang tak pernah berada dalam materi, akal yang dipenuhi dengan keabstrakan ini pula yang dapat menagkap cahaya yang dipancarkan Allah ke alam materi memlalui akal yang sepuluh.

Ibnu Sina mangatakan bahwa Allah SWT manciptakan alam secara emanasi, ketika Allah wujud sebagai akal langsung memikirkan terhadap zat-Nya yang menjadi objek pemikiran-Nya maka muncullah akal pertama A, B, dst. Akal pertama perfikir tentang Allah dan tentang dirinya sendiri, daya ini menghasilkan akal kedua dan langit pertama. Aka kedua berfikir pula tentang Allah dan tentang dirinya sendiri dan menghasilkan akal ketiga dan bintang-bintang. Demikian seterusnya tiap akal berfikir tentang Allah dan dirinya sendiri akan menghasilkan akal dan planet. Pemikiran akal ketiga menghasilkan akal keempat dan Saturnus. Akal keempat menghasilkan akal kelima dan Jupiter. Akal lima, menghasilkan akal enam dan Mars. Akal enam menghasilkan akal tujuh dan Matahari. Akal tujuh menghasilkan akal delapan dan Venus. Akal delapan menghasilkan akal sembilan dan Merkuri. Akal sembilan menghasilkan akal sepuluh dan Bulan. Akal sepuluh menghasilkan Bumi, roh, materi pertama yang menjadi dasar dari keempat unsur (udara, air, api, dan tanah).

Emanasi Ibnu Sina juga menghasilkan sepuluh akal dan sembilan planet. Sembilan akal mengurusi sembilan planet dan akal kesepuluh mengurusi bumi. Sedangkan disisi lain kaum teolog islam mengartikan akal sebagai daya untuk memperoleh pengetahuan. Menurut Abu al-Hauzail akal adalah daya untuk memperoleh penetahuan dan juga daya yang membuat seseorang dapat membedakan antara dirinya dan benda lain antara benda-benda suatu diri yang lain.

Akal dalam pengertian Islam tidaklah otak tetapi adalah daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia, daya yang digambarkan dalam Al-Quran memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Akal dalam pengertian inilah yang dikontraskan dalam islam dengan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar yaitu dati Allah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: