@a Media

Beranda » Artikel Pendidikan » INTEGRASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM BUDAYA SEKOLAH

INTEGRASI NILAI-NILAI KEARIFAN LOKAL DALAM BUDAYA SEKOLAH

tari-piringSekolah sebagai satuan pendidikan memegang peranan penting dalam pembinaan karakter siswa sebagai bagian dari masyarakat. Dalam UU SIKDIKNAS No 20 Tahun 2003  terdapat 3 (tiga) pokok pikiran  utama yang terkandung di dalamnya mengenai sekolah sebagai satuan pendidikan, yaitu: (1) usaha sadar dan terencana; (2) mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik aktif mengembangkan potensi dirinya; dan (3) memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Lembaga pendidikan formal atau sekolah dewasa ini merupakan tempat utama seseorang mendapatkan pendidikan. Sekolah dinilai memberikan sumbangan terbesar pada seseorang dalam memperoleh pendidikan secara maskimal. Pendidikan adalah proses dimana masyarakat melalui lembagalembaga pendidikan (sekolah, perguruan tinggi, atau lembaga-lembaga lain) dengan sengaja mentransformasikan warisan budayanya yaitu pengetahuan, nilai-nilai, dan keterampilan-keterampilan (Dwi Siswoyo, 2007:18)

Sekolah-sekolah berstandar internasional dengan segala keunggulannya menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantar sehari-hari dalam mendidik anak bangsa, bukan tidak mungkin menyebabkan kecintaan pada nilai budaya bangsa mulai pudar. Padahal, bahasa sebagai alat dalam menyampaikan pembelajaran sangat besar pengaruhnya terhadap pembentukan karakter anak didik jika dalam proses pembelajaranya tidak disisipkan nilai-nilai kearifan lokal. Materi-materi pembelajaran cenderung berorientasi pada ilmu pengetahuan „murni‟, bersandar pada kepentingan kognitif siswa tanpa mencoba menggali kembali kearifan budaya lokal yang diintegrasikan dalam sistem pembelajaran (Rahma Kurnia Sri Utami, 2009).

Di era globalisasi sekarang ini masalah yang penting yang banyak terjadi di lingkungan sekolah Menengah Atas dan Kejuruan adalah terkikisnya identitas kebangsaan. Derasnya arus globalisasi menyebabkan terkikisnya nilai-nilai kebangsaan. Anak-anak lebih bangga dengan budaya asing daripada budaya bangsanya sendiri. Selain hal tersebut kenakalan remaja kian menunjukan angka yang terus meningkat, data BNN tahun 2014 mnunjukan bahwa 50-60% penguna narkoba di Indonesia adalah pelajar dan mahasiswa, dan data hasil bebrbagai survei menunjukan bahwa lebih dari 40 % remaja pernah melakukan hubungan seks. Dengan keadaan yang seperti ini perlu diintegrasikan nilai-nilai kearifan lokal kepada peserta didik dalam budaya sekolah baik dalam pembelajaran atau dalam interaksi keseharian di sekolah untuk memperkuat karakter siswa menengah atas dan kejuruan.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: